Minggu, 18 Maret 2012

Meningkatkan Power Negara untuk Mempertahankan Kedaulatan

Third World Governments: Dynamics Of Potential Bargaining Power

Stefananda A.P - 0911240086

       Tarzi menganalisis hubungan antara yang MNC dan pemerintah Dunia Ketiga sebagai host country. Terlepas dari kehadiran MNC di negara-negara berkembang yang memiliki berbagai keuntungan, namun sebenarnya ada relasi yang kurang menguntungkan bagi negara-negara berkembang. Ada beberapa faktor dan kendala pada lingkup domestik maupun internasional yang membuat negara host kurang memiliki bargaining power. Ide potential power dan actual power adalah kunci utama dalam argumen Tarzi. Potential power adalah didasarkan pada keahlian atau kemampuan negara itu sendiri, contohnya kompetisi antar MNCs, tipe FDI dan sistem ekonomi. Sedangkan actual power adalah apa yang negara sebenarnya lakukan untuk meningkatkan daya tawar mereka sehingga dapat mengatur atau mempengaruhi perilaku MNCs. Penting untuk memahami kedua power terebut sehingga dapat memahami posisi sebenarnya negara-negara berkembang ketika berhadapan dengan MNC. Walaupun negara berkembang memiliki akses dan kontrol atas sumber daya alam, tenaga kerja, pasar internal, dan peluang investasi, namun kebijakan negara-negara berkembang masih ditekan oleh perusahaan multinasional. Hal ini terjadi karena beberapa alasan. Perusahaan multinasional memiliki keterampilan, akses, dan modal yang dibutuhkan untuk mendominasi sektor ekonomi penting, dan mereka mudah mengontrol industri yang umum di seluruh dunia ketiga. Meskipun perbaikan sedang dilakukan di negara-negara host country, masih banyak faktor yang menghambat mereka menyadari potensi tawar mereka. Inilah yang menjadi perdebatan bahwa dengan mudahnya MNCs memiliki kemampuan untuk ‘mengontrol’ kedaulatan negara-negara berkembang.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar