Senin, 19 Maret 2012

Perdebatan Antara Pendukung dan Penentang Eksistensi Peran MNC dalam Ranah Sosial-Politik


The Case for Foreign Direct Investment and Multinational Corporations
Santi Setiawati / 0911243028

Dalam jurnal Cohen yang berjudul The Case for FDI and MNCs, Cohen membahas tentang dukungan atas keberadaan FDI dan MNC di host country. MNC member manfaat besar dari segi ekonomi. MNC mampu mengalokasikan sumber daya materi dan manusia secara efisien, meningkatkan ekonomi berkelanjutan, meningkatkan standar kehidupan, serta mengentaskan kemiskinan.
Terkait dengan perusahaan-perusahaan domestik, MNC memiliki ukuran yang jauh lebih besar. Selain itu MNC membayar para pekerja dengan bayaran yang lebih tinggi, memiliki produktivitas yang lebih besar, serta lebih menguntungkan. Secara ekonomi, FDI juga membawa keuntungan dengan adanya transfer teknologi. MNC merupakan sumber utama bagi teknologi-teknologi mutakhir di sektor manufaktur, informasi telekomunikasi, serta eksplorasi minyak.
Pendukung MNC menganggap bahwa MNC dapat meningkatkan level kompetisi bagi host country. Investasi menambah jumlah pelaku pasar, menurunkan harga, serta menambah pilihan produk dan jasa. Lebih penting lagi, kehadiran FDI mampu mengisi dua ketimpangan financial di beberapa negara, yaitu saving gap dan foreign exchange gap.
Dapat disimpulkan bahwa kehadiran MNC sangat menguntungkan bagi negara berkembang karena lebih efisien daripada perusahaan domestik.

Perdebatan Antara Pendukung dan Penentang Eksistensi Peran MNC dalam Ranah Sosial-Politik



FDI dan MNCs : Pendukung VS Penentang
Risalatul Mu'awanah / 0911240021

Dalam chapter 12 dan 13 Cohen menjelaskan perdebatan antara pendukung MNC dan penentang MNC. Dalam chapter 12 Cohen memaparkan argumentasi pendukung MNC mengenai keuntungan-keuntungan dari FDI dan MNC terhadap Host Country. Misalnya menciptakan lapangan pekerjaan baik untuk level expertise maupun pekerja produksi , masuknya FDI juga merangsang naiknya angka ekspor yang mana akan menaikkan nilai mata uang local, MNC dan FDI juga merangsang pertumbuhan ekonomi serta transfer teknologi dan pengetahuan.
Sedangkan dalam chapter 13, cohen menjelaskan argument-argumen  penentang MNC dan FDI yang mendasarkan pada efek buruk yang ditimbulkan oleh masuknya FDI dan MNC. Antara lain kecenderungan latah negara-negara berkembang untuk rest to the bottom. Yaitu negara berkembang merendahkan posisi tawarnya untuk mengundang FDI dan MNC. Akibatnya akan ada pihak-pihak yang tereksploitasi dan dirugikan. Antara lain lingkungan dan tenaga kerja. Jikapun MNC dan FDI meningkatkan pendapatan nasional atau pertumbuhan ekonomi, sifatnya hanya di permukaan atau makro. Berkebalikan dengan level mikro.
Dengan demikian, MNC dan FDI memiliki keunggulan dan kelemahan. Terdapat cost dan benefit yang harus diterima oleh negara penerima FDI dan MNC. Kembali lagi lagi, bagaimana negara memaksimalkan actual dan potential power yang telah dijelaskan dalam pemikiran Tarzi sebelumnya.  

Meningkatkan Power Negara untuk Mempertahankan Kedaulatan

Potential Power dan Actual Power Tarzi dalam Membaca Hubungan MNCs dengan Host Country
Risalatul Mu'awanah /0911240021

Fenomena hubungan MNCs dengan Host Country seringkali mendapat pandangan "negatif", apabila host country merupakan negara berkembang. "Negatif" di sini ialah kondisi dimana kedaulatan negara menjadi terkikis dan kondisi dependensi serta tereksploitasi oelh MNCs. 
Namun dalam pandangan Tarzi, tingkat dependensi atau kuat lemahnya kedaulatan host country tergantung pada actual power dan potential power yang dimiliki oleh negara. Potential Power ialah kekuatan potensial yang dimiliki oleh negara tersebut. Seperti tingkat kompetisi MNCs, tipe investasi asing, kemampuan pemerintah serta kondisi ekonomi. Sedangkan Actual Power ialah kemauan atau itikad baik serta kemampuan pemerintah lokal untuk mengoptimalkan Potential Power untuk meningkatkan bargaining positionnya.
Dengan demikian, bila suatu negara mampu mengoptimalkan dua jenis power tersebut, maka ia dapat mempertahankan kedaulatannya di hadapan MNCs. Begitu pula sebaliknya.

Meningkatkan Power Negara untuk Mempertahankan Kedaulatan


Third World Governments and Multinational Corporations
Onky Hendrawan P/ 0911243065
Multi National Corporations saat ini memang memegang peranan penting dalam perekonomian global. Dalam jurnal yng ditulis oleh  Shah M.Tarzi ,dengan judul ” Third World Governments and Multinational Corporations: Dynamics of Host’s Bergaining Power”, dijelaskan bagaimana hubungan antara MNC dan pemerintahan negara dunia ketiga (host country). Bagi host country MNC dapat memberikan dampak positif dan juga negarif. Dengan hadirnya MNC  di host country, tentunya negara host country  akan mengharapkan bahwa MNC tersebut akan menguntungkan mereka, tapi host country memilki beberapa keterbatasan, seperti sulitnya mereka dalam mengaplikasikan teknologi yang ditransfer oleh MNC. Host country juga memilki ancaman untuk dijadikan eksploitaasi oleh MNC.
Untuk mengendalikan peran MNC di Host Country ada 2 instrumen power yang dapat digunakan, yaitu Potential Power dan Actual Power. Dua instrument power itu dapat dijelaskan sebagai , Potential Power adalah kemampuan dasar dari suatu negara untuk mengendalikan apa yang sudah menjadi potensi di negaranya.  Actual Power adalah kemampuan pemerintah Host Country untuk menjalankan posisi tawarnya terhadap MNC, agar Host country diuntungkan dengan adanya MNC. Apabila host country mampu memaksimalkan 2 instrumen power ini, maka Host country akan mampu menagatur MNC yang masukdan dapat diuntungkan oleh kehadiran MNC tersebut.


Meningkatkan Power Negara untuk Mempertahankan Kedaulatan


Dynamic of host’s bargaining power
Firda Idrayanti (0911240008)

            Perusahaan multinasional berusaha meminimalisir aturan dan tekanan yang diberikan oleh pemerintah host country. Maka dari itu, pemerintah host country harus memiliki bargaining power terhadap MNC. Power yang dapat dimaksimalkan yaitu potential power dan actual power.
            Potential power merupakan power atau kondisi yang sudah dimiliki oleh host country. Sehingga, pemerintah host country memaksimalkan potensi tersebut sebagai bargaining power. Power tersebut meliputi : keahlian pemerintah dalam hal administrative seperti pajak, peraturan operasi, dan memonitor aktivitas MNC. Pemerintah juga harus mengimprove nilai tawar dengan MNC, karena kondisi ekonomi suatu negara menentukan hubungan MNC dengan host country tersebut. Pemerintah host country juga harus mengenal karakteristik MNC agar dapat mengontrol kinerja MNC tersebut.
            Sedangkan, actual power adalah kemampuan dan kemauan pemerintah host country untuk meminimalisir dominasi MNC. Hal ini dapat dilakukan dengan penyediaan kestabilan kondisi bagi MNC. Selain itu, pemerintah host country juga menyediakan basic goods kepada masyarakat agar tidak didominasi MNC.

“Third World Government and Multinational Coorporation : Dinamic of Host’s Bargaining Power”.     Shah M.Tarzi

Meningkatkan Power Negara untuk Mempertahankan Kedaulatan


Third World Government and Multinational Corporations:
Dynamics of Host’s Bargaining Power
Santi Setiawati / 0911243028

Dalam jurnal yang berjudul Third World Government and MNCs, Shah M.Tarzi membahas tentang hubungan tawar antara pemerintah di host country dengan MNC. Tarzi mengidentifikasi beberapa faktor yang mempengaruhi kekuatan tawar pemerintah lokal. Kekuatan tersebut dibagi dalam dua jenis yaitu potensial power dan actual power.
Potensial power merupakan kekuatan tawar relatif pemerintah yang muncul dari potensi pemerintah itu sendiri. Kekuatan itu antara lain:
  1. Tingkat keahlian pemerintah. Melalui peningkatan keahlian pemerintah, maka pemerintah akan memiliki kapasitas yang lebih besar untuk memonitor perusahaan bahkan bernegosiasi dalam kondisi yang dibutuhkan.
  2. Tingkat kompetisi multinasional. Minimnya kompetisi antar negara dalam host country menandakan lemahnya posisi tawar host country. Oleh karena itu agar kompetisi semakin meningkat dibutuhkan peningkatan kekuatan tawar pemerintah.
  3. Tipe Investasi Asing Langsung
  4. Ketdakpastian ekonomi
Actual power merupakan kemampuan dan keinginan dari pemerintah lokal untuk mempraktekkan kekuatan tawarnya agar mendapatkan perlakuan baik dari perusahaan asing. Ada dua faktor yang mempengaruhi actual power yaitu faktor domestik dan internasional. Faktor domestik meliputi politik dalam negeri host country. Sedangkan faktor internasional seperi tekanan politik dan ekonomi asing seringkali merupakan hal yang menghambat pemerintah di host country untuk menerjemahkan potensial power menjadi kekuatan yang dapat melahirkan keluaran bagi investor asing.
Tulisan ini akhirnya menyimpulkan bahwa ketergantungan negara berkembang sebagai host country terhadap sistem ekonomi internasional merupakan penghambat negara berkembang dalam mempraktekkan potensial power yang dimilikinya.

Meningkatkan Power Negara untuk Mempertahankan Kedaulatan

Oucky Hertanto/0911241003
Review : Third World Governments and Multinational Corporations
MNC sangat berkembang pesat pasca perang dunia kedua. MNC bertumbuh sebaga salah satu tonggak ekonomi dunia. Ekspansi oleh MNC mulai dilakukan pada negara-negara dunia ketiga, dimana kekuatan modal digunakan untuk mengeksplorasi sumber daya yang terdapat di negara dunia ketiga.
Dalam hal ini ada beberapa ketimpangan yang dihubungkan dengan konteks MNC dengan host country yang notabene adalah negara dunia ketiga. Host country memiiki keterbatasan seperti contoh akses duplikasi terhadap tekhnologi yang digunakan oleh MNC, dsb. Oleh karena itu, hal ini membuat hubungan yang asimetris MNC dengan Host Country yang ada.
Untuk itulah di sini muncul isitlah potencial power dan actual power, dimana dari hubungan yang asimetris ini, host country dinilai memilki posisi tawar yang digunakan dalam menjalin hubungannya dengan MNC yang melakukan ekspansi. Untuk mengatasi hbungan yang tidak seimbang antara MNC serta host cuntry, host country harus memaksimalka peran potencial  power yang dimiliki,yang terdiri dari bebera faktor yaitu :
·         The level of the host government’s expertise,
·         The degree of competition among multinationals,
·         The type of direct foreign investment, 
·         The degree or extent of prevailing economic uncertainty.
Power potensial dapat didefiniskan sebagai kemampuan fundamental yang dimiliki oleh hst country.
Actual Power merupakan kemampuan atau abbility dari pemerintah host country untuk menjalankan posisi tawarnya dengan MNC agar menjadi hubungan yang lebih menguntungkan antar keduanya atau dapat diartikan sebagai aktulisasi dari power potensial yang dimiliki. Sejumlah faktor yang mempengaruhi actual power tersebut antara lain kondisi perpolitikan domestik, fluktuasi ekonomi serta faktor external yag berasal dari luar domestik pemerintahan host country itu sendiri

Meningkatkan Power Negara untuk Mempertahankan Kedaulatan

 Third World Governments and Multinational Corporations:
Dynamics of Host’s Bargaining Power
Yanuar Ramadhan
    Pada dasarnya negara-negara dunia ketiga masih belum mau untuk mengubah potential power yang dimilikinya menjadi actual power. Hal ini lebih dikarenakan pada akhirnya negara-negara dunia ketiga tersebut tersadar bahwa semua power, baik potential maupun actual power, yang dimilikinya masih belum cukup untuk bisa mengubah kondisi negaranya tersebut. Negara-negara dunia ketiga bila saja pada akhirnya mau merubah potential power mereka menjadi actual power, maka yang kemudian terjadi selain dari bertambahnya cost dari proses produksi, juga akan membuat negara tersebut kalah bersaing dari MNC. Juga adanya ketakutan akan ‘dikucilkan’ oleh negara-negara dunia pertama. Oleh karena itu, actual power dari negara-negara dunia ketiga tersebut lebih dipergunakan untuk membuat regulasi yang tidak terlalu mengekang MNC yang beroperasi di wilayah negaranya. Selain itu, negara-negara dunia ketiga cenderung untuk memberikan keringanan-keringanan kepada MNC dengan syarat MNC tersebut bisa tetap melakukan knowledge-sharing meskipun dalam jumlah yang bisa dibilang sangat terbatas.

Minggu, 18 Maret 2012

Meningkatkan Power Negara Untuk Mempertahankan Kedaulatan


ANDHIKA FEBRI S 0911243046
Third World Governments and Multinational Corporations:
 Dynamics of Host’s Bargaining Power
Negara dunia ketiga menjadi sorotan ketika banyak berbagai MNC masuk ke negaranya. Banyak keuntungan yang didapat memang dari segi ekonomi tetapi bagaimana dari segi politik,hukum dan kedaulatan? Negara berkembang atau Negara dunia ketiga sepertinya hanya dijadikan ‘objek’ bagi berbagai MNC yang masuk di negaranya. Banyak host country yang menjadi tempat untuk mengepakkan sayapnya bagi sebuah MNC. Dimana MNC menambah pemasok bahan baku dengan biaya murah, menjamah konsumen(penduduk) di Negara tersebut dan mempengaruhi kebijakan politiknya yang tak lain juga menggerogoti kedaulatan  negaranya. Shah M. Tarzi memaparkan ada 2 power yang bisa dimanfaatkan Negara host coutry untuk menghadapi MNC yaitu Potential Power dan Actual Power. Potential Power adalah dimana negara host country memiliki daya tawar relatif terhadap MNC seperti dalam bidang ekonomi dan, politik dan pemerintahan sedangkan actual power adalah dimana pemerintah mampu memaksimalkan apa yang dimilikinya sebagai host country untuk mendapatkan keuntungan yang maksimal dari MNC serta mengawasi dan mengatur MNC yang ada.