The False Development
Promise of Corporate Social Responsibility:
Evidence from
Multinational Oil Companies
Oucky
Hertanto/0911241003
Dalam
bacaan The False Development Promise of
Corporate Social Responsibility: Evidence from Multinational Oil Companies, memiliki
bahasan utama mengenai ketimpangan antara tujuan CSR dan implementasi yang
dijalankan CSR. Dilihat dari sudut pandang lain, program CSR yang dilakukan
oleh suatu perusahaan merupakan sebuah tekanan, dalam artian sebuah perusahaan multinasional
ditekan untuk membuat sumbangsih kepada masyarakat ataupun lingkungan seiring
dengan dianggap gagalnya peran pemerintah untuk membangun hal-hal yang bersifat
sosial. Dalam perjalanannya tekanan kepada perusahaan multinasional semakin
kompleks karena banyaknya motif untuk melakukan program CSR nya. Dalam artikel
tersebut, disebutkan empat faktor utama perusahaan melakukan program CSR nya
dengan berbagai motif yang ada :
•
obtaining competitive advantage;
•
maintaining a stable working environment;
•
managing external perceptions;
•
keeping employees happy.
Namun
kembali lagi pada faktor kompleksnya motif untuk membuat program CSR itu
sendiri, program-program yang dijalankan terkadang tidak sesuai ekspektasi.
Ekspektasi di sini berarti program CSR yang dijalankan tidak terlalu mengena
kepada hal-hal sosial yang dibangun, tidak sesuai dengan tujuan utamanya. Hal
ini mengakibatkan peran program CSR di perusahaan multinasional menjadi sebuah
hal yang sia-sia. Dalam artikel tersebut disebutkan sebuah studi lapangan yang
melibatkan sebuah perusahaan minyak di Nigeria dengan program CSR nya membangun
sebuah jalan di Negeria. Proyek pembangunan jalan yang digagas ini tidak
berjalan sesuai dengan harapan atau bisa dikatakan gagal karena kurangnya
koordinasi dan kurangnya identifikasi atas permasalahan yang dijadikan sebagai
subyek dari program CSR perusahaan minyak tersebut.
Untuk
itulah dapat disimpulkan bagimana program CSR terkadang tidak bisa menyentuh
secara langsung kepada aspek sosial yang dituju, dikarenakan banyaknya
kepentingan yang berbenturan(motif bisnis) dan kurangnya perhatiaan(CSR
dianggap sebagai tuntutan semata) sehingga program CSR dianggap sebagai hal
yang sia-sia.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar