Senin, 02 April 2012

CSR dan Dinamika kritikannya


The False Development Promise of Corporate Social Responsibility:
Evidence from Multinational Oil Companies
Oucky Hertanto/0911241003


Dalam bacaan The False Development Promise of Corporate Social Responsibility: Evidence from Multinational Oil Companies, memiliki bahasan utama mengenai ketimpangan antara tujuan CSR dan implementasi yang dijalankan CSR. Dilihat dari sudut pandang lain, program CSR yang dilakukan oleh suatu perusahaan merupakan sebuah tekanan, dalam artian sebuah perusahaan multinasional ditekan untuk membuat sumbangsih kepada masyarakat ataupun lingkungan seiring dengan dianggap gagalnya peran pemerintah untuk membangun hal-hal yang bersifat sosial. Dalam perjalanannya tekanan kepada perusahaan multinasional semakin kompleks karena banyaknya motif untuk melakukan program CSR nya. Dalam artikel tersebut, disebutkan empat faktor utama perusahaan melakukan program CSR nya dengan berbagai motif yang ada :
         obtaining competitive advantage;
         maintaining a stable working environment;
         managing external perceptions;
         keeping employees happy.
Namun kembali lagi pada faktor kompleksnya motif untuk membuat program CSR itu sendiri, program-program yang dijalankan terkadang tidak sesuai ekspektasi. Ekspektasi di sini berarti program CSR yang dijalankan tidak terlalu mengena kepada hal-hal sosial yang dibangun, tidak sesuai dengan tujuan utamanya. Hal ini mengakibatkan peran program CSR di perusahaan multinasional menjadi sebuah hal yang sia-sia. Dalam artikel tersebut disebutkan sebuah studi lapangan yang melibatkan sebuah perusahaan minyak di Nigeria dengan program CSR nya membangun sebuah jalan di Negeria. Proyek pembangunan jalan yang digagas ini tidak berjalan sesuai dengan harapan atau bisa dikatakan gagal karena kurangnya koordinasi dan kurangnya identifikasi atas permasalahan yang dijadikan sebagai subyek dari program CSR perusahaan minyak tersebut.
Untuk itulah dapat disimpulkan bagimana program CSR terkadang tidak bisa menyentuh secara langsung kepada aspek sosial yang dituju, dikarenakan banyaknya kepentingan yang berbenturan(motif bisnis) dan kurangnya perhatiaan(CSR dianggap sebagai tuntutan semata) sehingga program CSR dianggap sebagai hal yang sia-sia.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar