Senin, 02 April 2012

CSR dan Dinamika kritikannya

Alam Setia budi / 0911243002
The False Development Promise of Corporate Social Responsibility:
Evidence from Multinational Oil Companies


Dalam jurnal yang berjudul The False Development Promise of Corporate Social Responsibility (CSR): Evidence from Multinational Oil Companies, Jedrzej George Frynas membahas tentang efektivitas CSR di sektor minyak, gas, dan batu bara. Banyak sudut pandangan yang berbeda dari segi baik dan buruknya dalam perusahaan yakni program CSR tersebut antara lain seperti CSR merupakan upaya pengelolaan persepsi oleh perusahaan untuk membuat orang-orang di luar dan dalam perusahaan memiliki pandangan positif tentang perusahaan dan juga CSR merupakan hambatan bagi pembangunan. Sebenarnya CSR  mempunyai banyak faktor baik dalam membawa citra perusahaan dan di mata masyarakat contoh halnya dengan adanya menjaga kestabilan lingkungan kerja, menjaga persepsi eksternal, serta memastikan kesejahteraan karyawan. Dan CSR juga dapat menghambat kemajuan pembangunan masyarakat nasional
Program CSR yang diberikan oleh perusahaan minyak tersebut seringkali mengalami kegagalan atau hambatan, hambatan ini dikarenakan kegagalan dalam  melibatkan masyarakat yang menerima keuntungan dari CSR, kurangnya sumber daya manusia, sikap dari para staf perusahaan minyak dan fokusnya pada solusi teknis dan manajerial. Hadirnya CSR ini ditujukan untuk memberikan keuntungan pada perusahaan dan bukan ditujukan pada masyarakat secara umum. Sehingga CSR mendapatkan hasil keperusahaan dengan keuntungan kompetitif, menjaga stabilitas lingkungan kerja, mengatur persepsi eksternal, dan membuat karyawan senang. Dengan adanya pemberian tugas kepada CSR nyatanya hanya untuk meningkatkan citra perusahaan terhadap mata masyarakat sehingga dapat menciptakan hasil yang baik tidak banyak pro dan kontra dalam menjalaninya di dalam program CSR.

CSR dan Dinamika kritikannya


The False Development Promise of Corporate Social Responsibility:
Evidence from Multinational Oil Companies
Oucky Hertanto/0911241003


Dalam bacaan The False Development Promise of Corporate Social Responsibility: Evidence from Multinational Oil Companies, memiliki bahasan utama mengenai ketimpangan antara tujuan CSR dan implementasi yang dijalankan CSR. Dilihat dari sudut pandang lain, program CSR yang dilakukan oleh suatu perusahaan merupakan sebuah tekanan, dalam artian sebuah perusahaan multinasional ditekan untuk membuat sumbangsih kepada masyarakat ataupun lingkungan seiring dengan dianggap gagalnya peran pemerintah untuk membangun hal-hal yang bersifat sosial. Dalam perjalanannya tekanan kepada perusahaan multinasional semakin kompleks karena banyaknya motif untuk melakukan program CSR nya. Dalam artikel tersebut, disebutkan empat faktor utama perusahaan melakukan program CSR nya dengan berbagai motif yang ada :
         obtaining competitive advantage;
         maintaining a stable working environment;
         managing external perceptions;
         keeping employees happy.
Namun kembali lagi pada faktor kompleksnya motif untuk membuat program CSR itu sendiri, program-program yang dijalankan terkadang tidak sesuai ekspektasi. Ekspektasi di sini berarti program CSR yang dijalankan tidak terlalu mengena kepada hal-hal sosial yang dibangun, tidak sesuai dengan tujuan utamanya. Hal ini mengakibatkan peran program CSR di perusahaan multinasional menjadi sebuah hal yang sia-sia. Dalam artikel tersebut disebutkan sebuah studi lapangan yang melibatkan sebuah perusahaan minyak di Nigeria dengan program CSR nya membangun sebuah jalan di Negeria. Proyek pembangunan jalan yang digagas ini tidak berjalan sesuai dengan harapan atau bisa dikatakan gagal karena kurangnya koordinasi dan kurangnya identifikasi atas permasalahan yang dijadikan sebagai subyek dari program CSR perusahaan minyak tersebut.
Untuk itulah dapat disimpulkan bagimana program CSR terkadang tidak bisa menyentuh secara langsung kepada aspek sosial yang dituju, dikarenakan banyaknya kepentingan yang berbenturan(motif bisnis) dan kurangnya perhatiaan(CSR dianggap sebagai tuntutan semata) sehingga program CSR dianggap sebagai hal yang sia-sia.

Minggu, 01 April 2012

CSR dan Dinamika kritikannya

The False Development Promise of Corporate Social Responsibility:
Evidence from Multinational Oil Companies

Andhika Febri S         (0911243046)
CSR (corporate social responsibility) adalah program dari perusahaan yang ditujukan pada karyawan dan keluarganya, masyarakat sekitar serta lingkungan sekitar untuk dikembangkan menjadi lebih baik atau untuk berkontribusi memajukan mereka. Kenyataan di lapangan tidak sesuai teori yang ada, banyak sekali motif-motif yang pada dasarnya akan kembali menguntungkan pihak perusahaan. Pembentukan fasilitas umum di tengah-tengah masyarakat melalui CSR merupakan upaya pencitraan perusahaan kepada masyarakat setempat agar masyarakat berbaik sangka atau berpikir baik terhadap perusahaan tersebut. CSR juga dijadikan alat perusahaan untuk lebih mengakrabkan kepada masyarakat agar mempermudah dalam hal perizinan dan persetujuan dalam program-program yang lain. CSR juga mampu mengubah pola pikir atau mindset suatu masyarakat mengenai suatu hal seperti selalu membanggakan perusahaan tertentu bahkan berpikir buruk terhadap pemerintah. Dari semua hal tersebut, jelas bahwa CSR hanya menguntungkan perusahaan bukan masyarakat. Perusahaan hanya menjadikan masyarakat sebagai instrument dalam CSR yang pada akhirnya berujung pada perusahaan tersebut. Menurut saya pribadi CSR bukan corporate social responsibility tetapi corporate social reward. 

CSR dan Dinamika Kritikannya


Corporate Social Responsibility
Perusahaan multinasional yang bergerak dalam sektor minyak dan gas termasuk dalam kategori perusahaan yang loyal dalam memberikan CSR. Pemberian CSR yang dilakukan oleh MNC minyak berupa pembangunan sekolah, rumah sakit, serta pemberian kredit mikro. Namun, pemberian CSR ini dipertanyakan keefektifannya oleh aktivis Non Govermental Organization (NGO). Pemberian CSR mendapat kritikan pedas dari sejumlah kalangan karena CSR dianggap sebagai pencitraan perusahaan agar produk yang dihasilkannya laku di pasaran.
Selain itu, CSR juga digunakan untuk membangun relasi dengan publik untuk pembangunan jangka panjang dalam komunitas lokal. Sebelum pemberian CSR bagi masyarakat, pemanfaatan CSR harus dirasakan bagi pekerja yang terlibat di dalamnya untuk merasa sejahtera.
                                                                                                                                                                                                                                                            Rauli Silviana
                                                                                                            0911240019

CSR dan Dinamika Kritikannya


I Gusti Ngurah Eka Putra                                                                                       0911243058
The False Developmental Promise of CSR: Evidence from multinational oil company
JEDRZEJ GEORGE FRYNAS
Perusahaan Multinasional yang bergerak dalam bidang minyak memiliki komunikasi yang signifikan dengan masyarakat lokal, karena mereka terlibat langsung dengan masyarakat dalam upaya bisninya terkait sumber daya alam yang dimanfaatkan di daerah sekitarnya, maka perlu CSR sebagai tanggung jawab sosial perusahaan kepada masyarakat. Dalam implementasinya CSR banyak mendapatkan kritikan oleh aktivis NGO diantaranya CSR merupakan bahasan yang membuang waktu, hanya bersifat “managing perception” yang positif bagi lingkungan sosial sekitar, dan hanya merupakan ‘project pembangunan semata’.
Dalam perkembangannya CSR tidak saja bergerak di bidang investasi, namun juga bergerak di bidang social investment, dimana CSR digunakan sebagai instrumen, diantaranya terdapat faktor yang mendorong perusahaan untuk melakukanya, yaitu (1) adanya keuntungan kompetitif, memanfaatkan kesempatan dari kompetisi vis-à-vis dengan perusahaan lain dengan memanfaatkan CSR sabagai investasi sosial, (2) adanya manajemen lingkungan kerja yang stabil, (3) manajemen persepsi eksternal sebgai istrumen pencitraan positif perusahaan dari pihak luar, dan (4) menjaga suasana yang kondusif bagi tenaga kerja agar selalu memberikan performa yang baik.
 Selain faktor di atas, menurut Frynas terdapat faktor penghambat keberhasilan dari CSR perusahaan di host country akibat adanya “bussines case”, yaitu perusahaan terlalu berorientasi profit, tidak dapat menyesuaikan dengan isu domestik, kegagalan pengolaan keuntungan dari CSR, keterbatasan SDM, sikap sosial pekerja hanya berorientasi solusi yang bersifat teknikal dan manajerial saja, dan tujuan CSR yang tidak sesuai dengan rencana pembangunan. Jika perusahaan berorientasi pada bussines case tanpa memperhatikan isu lingkungan dan masyarakat sekitar dalam menerapkan CSR, maka hanya akan menimbulkan efek sosial yang merugikan bagi masyarakat yang menghambat pembangunan.

CSR dan Dinamika Kritikannya


The False Developmental Promise of Corporate Social Responsibility: Evidence from Multinational Oil Companies
Jedrzej George Frynas
Onky Hendrawan P.(0911243065)
Dalam jurnal yang berjudul The False Development Promise of Corporate Social Responsibility (CSR): Evidence from Multinational Oil Companies, karangan  Jedrzej George Frynas, dibahas mengenai aktifitas corporate social responsibility (CSR) yang dilakukan oleh perusahaan-perusahaan yang bergerak di bidang pertambangan minyak dan gas.  
Program CSR yang diberikan oleh perusahaan minyak tersebut seringkali mengalami kegagalan atau hambatan, hal tersebut diakibatkan  karena adanya perbedaan isu spesifik, kegagalan dalam  melibatkan masyarakat yang menerima keuntungan dari CSR, kurangnya sumber daya manusia, sikap dari para staf perusahaan minyak dan fokusnya pada solusi teknis dan manajerial, dan kegagalan dalam mengintegrasikan CSR kedalam rencana pembangunan yang lebih besar. Pemberian CSR oleh suatu perusahaan memiliki beberapa motif, motif pemberian CSR tersebut lebih ditujukan pada keuntungan perusahaan tersebut, bukan ditujukan pada masyarakat secara umum. Empat motif tersebut adalah untuk mendapatkan keuntungan kompetitif, menjaga stabilitas lingkungan kerja, mengatur persepsi eksternal, dan membuat karyawan senang.
Dengan adanya motif-motif tertentu  dalam pemberian CSR oleh suatu perusahaan  maka akan sulit untuk mengharapkan tujuan dari pembangunan masyarakat melalui CSR  akan tercapai. Karena dari pemberian CSR tersebut, mungkin hanya tujuan dari perusahaan untuk memperoleh keuntungan atau meningkatkan image positif di masyarakat yang akan tercapai.

The False Developmental Promise of Corporate Social Responsibility: Evidence from Multinational Oil Companies


Budiman Yusuf 0911240043

Menggunakan contoh perusahaan produsen minyak multinasional, artikel ini menunjukkan bahwa ada masalah mendasar seputar kemampuan perusahaan swasta untuk memberikan sumbangan terhadap pembangunan dan juga memberikan aspirasi untuk mencapai pembangunan negara melalui Corporate Social Responsibility (CSR) mungkin pada dasarnya merupakah sebuah aktivitas yang didalamnya terdapat sebuah "kecacatan" . Artikel ini didasarkan pada proyek penelitian yang berlangsung selama dua belas bulan yang luas di wilayah Teluk Guinea didanai oleh Yayasan Nuffield. Penelitian ini mengidentifikasi sejumlah kendala di dalam perkembangan CSR yaitu pelaksanaan program CSR yang dilatarbelakangi untuk pencapaian tujuan perusahaan; negara dan konteks isu yang spesifik. Kegagalan dalam memberikan maanfaat dari adanya program CSR yang diakibatkan oleh kurangnya sumber daya manusia dimana kemampuan teknis / manajerial pendekatan staf perusahaan dan kurangnya integrasi CSR ke dalam rencana pembangunan yang lebih besar. Tetapi bahkan jika perusahaan swasta mampu mengatasi masalah - masalah praktis, hal tersebut belum mampu mengubah anggapan bahwa agenda CSR saat ini gagal untuk mengatasi masalah yang penting dari pemerintahan dan tingkat makro yang menerima efek negatif yang disebabkan perusahaan - perusahaan multinasional di negara tuan rumah. Artikel ini menyimpulkan dengan menyarankan bahwa fokus pada CSR dapat mengalihkan perhatian dari solusipolitik, ekonomi dan sosial yang lebih luas untuk masalah perkembangan pembangunan negara penerima/tuan rumah.  

CSR dan Dinamika Kritikannya

The False Developmental Promise of Corporate Social Responsibility: Evidence from Multinational Oil Companies
Eka Pratama Putri (0911243052)
            Pada saat ini perusahaan asing yang didirikan di negara berkembang sedang gencar melaksanakan program CSR.  Dalam artikel ini mengambil contoh program CSR dari perusahaan multinasional yang bergerak pada sektor minyak dan gas. Perusahaan minyak  multinasional mulai memperhatikan aspek lingkungan dan social disamping kepentingan produksinya. Langkah awal perusahasaan minyak multinasional dalam membangun keperduliannya dalam masalah social dan lingkungan yaitu dengan cara bergabung dengan Global Compact PBB dan Global Reporting Initiative, dengan tujuan memerangi karbon dioksida dan meminimalkan kontribusi perusahaan terhadap pemanasan global. Perhatian perusahaan minyak multinasional ini bekembang ditahun 2001 dengan ikut berpartisipasi bersama USAID dan UNDP yang programnya dikhususkan untuk memberi perubahan terhadap negara-negara berkembang. Tapi CSR yang di usumg oleh perusahaan minyak multinasional ini mendapat kritikan dan program ini dianggap cacat sebab program CSR hanya membuang-buang waktu sehingga tidak efektif dalam pembangunan, CSR hanya mementingkan kepentingan perusahaan dengan mengelolah persepsi bahwa perusahaan ikut berperan terhadap pembangunan dalam masyarakat, sehingga memiliki image baik di mata masyarakat, dan program CSR merupakn pengahihan perhatian terhadap proyek-proyek pembangunan yg dilakukan perusahaan.
            Kritikan terhadap CSR perusahaan minyak multinasional tersebut mengambarkan motif di balik program CSR yang di usung oleh perusahaan multinasional. Sebab CSR tidak dapat dilihat dari satu sisi karena ada stategi jangka panjang yang dilakukan oleh perusahaan. Sehingga dapat diambil kesimpulan bahwa CSR tidak sesuai untuk mengatasi masalah-masalah yang ada di negara berkembang karena hal tersebut hanya dapat mengalihkan perhatian dari solusi sosial, politik, ekonomi.

CSR dan Dinamika Kritikannya


The False Development Promise of Corporate Social Responsibility:
Evidence from Multinational Oil Companies
Santi Setiawati / 0911243028

Dalam jurnal yang berjudul The False Development Promise of Corporate Social Responsibility (CSR): Evidence from Multinational Oil Companies, Jedrzej George Frynas membahas tentang efektivitas CSR di sektor minyak, gas, dan batu bara. Beberapa pihak seperti NGO menganggap bahwa terdapat ketimpangan antara tujuan awal CSR menurut para pemimpin bisnis dengan penerapan CSR dalam kenyataan. Pandangan mengenai CSR antara lain:
  1. Topik dan pembahasan mengenai CSR hanya membuang waktu.
  2. CSR merupakan upaya pengelolaan persepsi oleh perusahaan untuk membuat orang-orang di luar dan dalam perusahaan memiliki pandangan positif tentang perusahaan.
  3. CSR merupakan hambatan bagi pembangunan.
CSR merupakan instrumen bagi perusahaan untuk mencapai empat faktor penting bagi keberlangsungan perusahaan antara lain mencapai keuntungan kompetitif, menjaga kestabilan lingkungan kerja, menjaga persepsi eksternal, serta memastikan kesejahteraan karyawan. Menurut Frynas, terdapat beberapa masalah fundamental dari perusahaan untuk mencapai tujuan pembangunan melalui CSR. Kegagalan CSR dalam mewujudkan pembangunan pada umumnya diakibatkan karena tunduknya CSR terhadap tujuan perusahaan yang berorientasi profit. CSR memiliki keterbatasan mempercepat pembangunan masyarakat lokal.

CSR dan Dinamika Kritikannya


Kritik CSR : False Developmental Promise
Risalatul Mu’awanah / 0911240021


Dalam artikelnya, “The False Developmental Promise of Corporate Responsibility : Evidence from Multinational Oil Companies”  George Frynas menyatakan bahwa target pembangunan tidak dapat dicapai melalui CSR. Hal ini disebabkan adanya “business case” dalam motif pelaksanaan CSR.  Business Case” tersebut berupa 4 poin, yaitu :
1)      Obtaining Competitive Advantages. Yaitu Program social dalam CSR merupakan investasi social yang digunakan untuk bersaing dengan perusahaan lain yang juga melakukan CSR.
2)      Maintaning a stable working environmental. Yaitu CSR digunakan untuk menciptakan lingkungan kerja yang kondusif. Dengan menawarkan program pembangunan melalui CSR, memudahkan perusahaan dalam proses kompromi dengan masyarakat.
3)      Managing external perception. Yaitu CSR dibutuhkan oleh perusahaan untuk membuat opini public yang positif mengenai perusahaan tersebut (menaikkan reputasi).
4)      Keeping employees happy. Yaitu dengan reputasi dan opini public yang baik, maka akan mempuat pekerja (internal) perusahaan merasa senang dapat bekerja di perusahaan tersebut. Sekaligus selalu memberikan kinerja yang baik.
Dengan 4 “business case” yang menjadi motif perusahaan melakukan CSR, maka manfaat CSR tidak dapat dirasakan oleh masyarakat secara luas. Dan tujuan pembangunan yang dijanjikan melalui CSR tidak terlaksanakan.