Kelompok 5
Achmad Farouq Rifki (0911240001), Budiman Yusuf (0911240043), Yudhistira Widho (09112241006), Yurinda Ergyona (0911240034), Rachmawan Adi Chandra (0911240079), Alam Setiabudi (0911243002), Valentino T (0911243029), Handie Arief R ( 0911243013)
Megacity merupakan isu yang sedang berkembang utamanya di negara berkembang. Definisi megacity sendiri masih ada yang tepat. Menurut, UN pada tahun 2000 Megacity adalah kota yang memiliki populasi lebih dari 8 juta orang . Definisi UN ini diperjelas oleh Asian Development Bank (ADB) yaitu dengan adanya perekonomian yang kompleks, infrasturktur yang memadai bagi populasi yang tinggi tersebut. Selain itu, globalisasi juga memiliki peran dalam kemunculan megacity karena globalisasi ini membawa tren industrialisasi dan modernisasi. Indistrialisasi ini dibawa dalam rangka merangsang tingkat produktivitas negara demi meningkatkan dan memenuhi kebutuhan ekonomi negara. Hal tersebut membuat negara berkembang mengingkan peningkatan ekonomi, perubahan gaya hidup, dan pembangunan infrastruktur yang memicu tumbuhnya perkotaan dan populasinya. Selain itu juga mendorong terjadinya urbanisasi yang berdampak pada kemunculan banyaknya megacity.
Dalam Hubungan Internasional, fenomena ini dapat dilihat dari berbagai perspektif dan teori yang berbeda. Hubungan Internasional memfokuskan pada kajian bagaimana interaksi antar actor (baik negara maupun non negara).
Poskolonialisme : Megacity merupakan hasil konstruksi koloni dalam rangka membuat negara jajahan agar lebih mudah dikontrol. Salah satu bentuknya adalah membuat satu kota yang mudah untuk dikontrol dan membangunnya dengan berbagai infrastruktur yang memadai. Strategi ini digunakan agar koloni dapat lebih mudah mengontrol dan mempengaruhi kebijakan pemerintah negara jajahan.
Dalam sistem internasional, terdapat adanya pembagian sistem dunia menjadi tiga jenis menurut Wallerstein yang disebut dengan world oreder yaitu core yang dicerminkan dengan adanya negara maju dan power yang kuat , semiperiphery yang dicerminkan dengan mendekati standar negara maju dan periphery yang dicerminkan dengan mudahnya negara tersebut dikontrol oleh kekuatan negara core. Karena pembagian sistem dunia inilah muncul adanya istilah negara maju dan negara berkembang. Karena sistem internasional yang bersifat anarki dan tidak ada negara yang ingin selalu dianggap sebagai negara berkembang, maka kemunculan semangat negara berkembang semakin terlihat. Salah satunya dengan banyaknya pembangunan oleh negara berkembang yang sering dijadikan indikator layak tidaknya negara disebut sebagai negara maju. Teori modernisasi W.W Rostow menjadi salah satu contoh bagaimana negara maju selalu dijadikan kibblat dalam pembangunan. Karena negara berkembang berkiblat dari negara maju yang melakukan industrialisasi besar-besaran maka terjadilah banyaknya pertumbuhan dan pembangunan utamanya di negara berkembang.
Negara juga dapat diilustrasikan sebagai makhluk hidup yang selalu butuh hidup dan tumbuh. Salah satu tantangan negara adalah memiliki ekonomi yang kuat untuk terus tumbuh dan berkembang. Untuk memiliki itu, negara tidak cukup hanya melakukan self sufficiency saja namun juga harus mengekspansi ke luar negaranya seperti mengekspor goods dan mengglobalkan service maupun melakukan berbagai investasi di negara lain (masih jarang dilaukan negara berkembang). Karena kebutuhan produksi yang tinggi untuk mendapatkan income yang tinggi pula itulah negara berkembang membutuhkan adanya industry yang besar. Akhirnya, megacity merupakan pilihan yang tepat bagi negara karena jika terdapat megacity dalam negara maka industry juga akan terdapat dimana-dimana. Namun megacity ini menuai hal positif dan negatifnya, dalam bacaan ini kami menyimpulkan bahwa megacity merupakan hal yang cocok digunakan bagi membesarkan industry, namun megacity sendiri telah merusak lingkungan. Contoh kerusakan lingkungan yang terjadi adalah rusaknya sistem pengairan, tingginya tingkat polusi yang menyebabkan emisi dan semakin berkurangnya lahan untuk ditinggali makhluk hidup.
Fenomena megacity ini dapat dilihat sebagai fenomena dependensi. Banyaknya perspektif yang ada dalam hubungan internasional menyebabkan banyaknya sudut pandang yang digunakan dalam menganalisa. Megacity tidak akan pernah habis pembahasannya apabila kita sendiri masih terus memandang adanya keharusan untuk berkiblat pada negara maju. Bahan Bacaan : Population and Development Review vol. 23 No.2 (Juni.1997) J.Stor
Tidak ada komentar:
Posting Komentar