Selasa, 22 November 2011

Globalisasi dan Implikasi Terhadap Pembentukan Megacities (5)

Kelompok :

Andika Febri (0911243046), Bayu Dwi Atmoko (0911240041), Bob Nur Hasan (0811240040), Christine Meidi G (0911240045), Gracia Regina (0811240050), Indra Mahardika (0911243015), Mahneta Damayanti (0911240065), Rauli Silviana H. (0911240019), Retno Sawitri (0911240081), Risalatul Mu’awanah  (0911240021)

Menurut UN, megacity merupakan wilayah yang memiliki jumlah penduduk lebih dari 8 juta jiwa. Akan tetapi, menurut Asian Development Bank (ADB) criteria megacity ialah memiliki populasi yang besar, ekonomi yang kompleks, serta sistem transportasi yang memadai dan tenaga kerja yang banyak. Dewasa ini penduduk dalam sebuah megacity cenderung mengalami pergeseran standar hidup yang semakin menurun. Namun, populasi megacity khususnya di negara berkembang bukan semakin menurun justru naik. Hal ini disebabkan oleh berbagai hal salah satunya ialah pemusatan modal dan pembangunan di negara berkembang yang terpusat. Jika ditelususri dari aspek sejarah, pembangunan dan kapital yang terpusat ini merupakan sistem yang diwariskan oleh masa kolonial. Kelestarian skstem kolonial di negara-negara berkembang ini disebabkan oleh berbagai factor, yaitu :
  1. Tersedianya infrastruktur peninggalan penjajah di ibu kota negara (terpusat di satu wilayah) seperti gedung pemerintahan, jalan, pelabuhan, dan lain-lain. Sehingga meneruskan apa yang telah dibangun oleh penjajah jauh lebih efisien dari pada membangun infrastruktur baru di wilayah yang berbeda. Hal tersebut tidak hanya terjadi pada infrastruktur, akan tetapi juga terjadi pada sistemaika hukum, di Indonesia misalnya KUHP (Kitab Undang-Undang Hukum Pidana) merupakan translate dari Burgerlijk Wetboek, kitab perundang-undangan warisan Belanda.
  2.  Negara koloni mengalami kehilangan identitas setelah kemerdekaan (ditinggal penjajahnya). Sehingga negara-negara tersebut cenderung menganut sistem serta meneruskan apa yang ditinggalkan oleh penjajahnya.
  3. Terpengaruh oleh sistem pemerintahan dan bentuk negara. Negara-negara yang berbentuk kesatuan cenderung memiliki sistem pemerintahan yang terpusat. Sehingga terjadi pemusatan kapital dan pembangunan yang mendorong terjadinya urbanisasi dan munculnya megacity. Sedangkan bentuk negara federal menggunakan system pemerintahan yang desentralisasi, sehingga tidak terjadi pemusatan kapital dan pembangunan yang merata.

Sehingga Asian Development Bank menawarkan management untuk megacity yang meliputi :
  1. Pemerintah hanya menjadi fasilitator dalam penyediaan layanan masyarakat yang sebaiknya dilakukan oleh pihak swasta.
  2. Penerapan desentralisasi untuk memeratakan pembangunan sekaligus memaksimalkan potensi wilayah.
  3.  Layanan masyarakat (transportasi, kesehatan, komunikasi, dll) sebaiknya dialokasikan untuk profit oriented.
  4. Akses pembangunan terhadap modal privat melalui manajemen finansial dan regulasi pasar.
  5. Manajemen pembangunan misalnya dengan perbaikan infrastruktur.
Bahan Bacaan : Population and Development Review vol. 23 No.2 (Juni.1997) J.Stor

Minggu, 20 November 2011

Globalisasi dan Implikasi Terhadap Pembentukan Megacities (4)

Kelompok 5

Achmad Farouq Rifki  (0911240001), Budiman Yusuf (0911240043), Yudhistira Widho (09112241006), Yurinda Ergyona (0911240034), Rachmawan Adi Chandra (0911240079), Alam Setiabudi (0911243002), Valentino T (0911243029), Handie Arief  R (0911243013)

Megacity merupakan isu yang sedang berkembang utamanya di negara berkembang. Definisi megacity sendiri masih ada yang tepat. Menurut, UN pada tahun 2000 Megacity adalah kota yang memiliki populasi lebih dari 8 juta orang . Definisi UN ini diperjelas oleh Asian Development Bank (ADB) yaitu dengan adanya perekonomian yang kompleks, infrasturktur yang memadai bagi populasi yang tinggi tersebut. Selain itu, globalisasi juga memiliki peran dalam kemunculan megacity karena globalisasi ini membawa tren industrialisasi dan modernisasi. Indistrialisasi ini dibawa dalam rangka merangsang tingkat produktivitas negara demi meningkatkan dan memenuhi kebutuhan ekonomi negara. Hal tersebut membuat negara berkembang mengingkan peningkatan ekonomi, perubahan gaya hidup, dan pembangunan infrastruktur yang memicu tumbuhnya perkotaan dan populasinya. Selain itu juga mendorong terjadinya urbanisasi yang berdampak pada kemunculan banyaknya megacity.
Dalam Hubungan Internasional, fenomena ini dapat dilihat dari berbagai perspektif dan teori yang berbeda. Hubungan Internasional memfokuskan pada kajian bagaimana interaksi antar actor (baik negara maupun non negara).
Poskolonialisme : Megacity merupakan hasil konstruksi koloni dalam rangka membuat negara jajahan agar lebih mudah dikontrol. Salah satu bentuknya adalah membuat satu kota yang mudah untuk dikontrol dan membangunnya dengan berbagai infrastruktur yang memadai. Strategi ini digunakan agar koloni dapat lebih mudah mengontrol dan mempengaruhi kebijakan pemerintah negara jajahan.
Dalam sistem internasional, terdapat adanya pembagian sistem dunia menjadi tiga jenis menurut Wallerstein yang disebut dengan world oreder yaitu core yang dicerminkan dengan adanya negara maju dan power yang kuat , semiperiphery yang dicerminkan dengan mendekati standar negara maju dan periphery yang dicerminkan dengan mudahnya negara tersebut dikontrol oleh kekuatan negara core. Karena pembagian sistem dunia inilah muncul adanya istilah negara maju dan negara berkembang. Karena sistem internasional yang bersifat anarki dan tidak ada negara yang ingin selalu dianggap sebagai negara berkembang, maka kemunculan semangat negara berkembang semakin terlihat. Salah satunya dengan banyaknya pembangunan oleh negara berkembang yang sering dijadikan indikator layak tidaknya negara disebut sebagai negara maju. Teori modernisasi W.W Rostow menjadi salah satu contoh bagaimana negara maju selalu dijadikan kibblat dalam pembangunan. Karena negara berkembang berkiblat dari negara maju yang melakukan industrialisasi besar-besaran maka terjadilah banyaknya pertumbuhan dan pembangunan utamanya di negara berkembang.
Negara juga dapat diilustrasikan sebagai makhluk hidup yang selalu butuh hidup dan tumbuh. Salah satu tantangan negara adalah memiliki ekonomi yang kuat untuk terus tumbuh dan berkembang. Untuk memiliki itu, negara tidak cukup hanya melakukan self sufficiency saja namun juga harus mengekspansi ke luar negaranya seperti mengekspor goods dan mengglobalkan service maupun melakukan berbagai investasi di negara lain (masih jarang dilaukan negara berkembang). Karena kebutuhan produksi yang tinggi untuk mendapatkan income yang tinggi pula itulah negara berkembang membutuhkan adanya  industry yang besar. Akhirnya, megacity merupakan pilihan yang tepat bagi negara karena jika terdapat megacity dalam negara maka industry juga akan terdapat dimana-dimana. Namun megacity ini menuai hal positif dan negatifnya, dalam bacaan ini kami menyimpulkan bahwa megacity merupakan hal yang cocok digunakan bagi membesarkan industry, namun megacity sendiri telah merusak lingkungan. Contoh kerusakan lingkungan yang terjadi adalah rusaknya sistem pengairan, tingginya tingkat polusi yang menyebabkan emisi dan semakin berkurangnya lahan untuk ditinggali makhluk hidup.
Fenomena megacity ini dapat dilihat sebagai fenomena dependensi. Banyaknya perspektif yang ada dalam hubungan internasional menyebabkan banyaknya sudut pandang yang digunakan dalam menganalisa. Megacity tidak akan pernah habis pembahasannya apabila kita sendiri masih terus memandang adanya keharusan untuk berkiblat pada negara maju. Bahan Bacaan : Population and Development Review vol. 23 No.2 (Juni.1997) J.Stor

Globalisasi dan Implikasi Terhadap Pembentukan Megacities (3)

Siti Kalimah (0911240023), Santi Setiawati, (0911243028) Ruth Marlin Grace (0911243026), IGN Eka Putra, (0911243058) Shinta Ary (0911243072), Eka Pratama Putri (0911243058), Yanuar Rahmadan (0911243031), Dwi Agustina (0911240047), Reza Nurwansyah (0911240082)

          Megacities merupakan area metropolitan yang luas dengan ekonomi kompleks, tenaga kerja yang besar dan sangat terampil serta sistem transportasi yang mampu menjaga komunikas isehari-hari antara semua penduduknya. Di dunia sendiri terdapat 17 megacities dan 9 diantaranya berada di wilayah Asia termasuk Jakarta. Kenyataannya, keberadaan megacities ini memiliki sisi positif dan juga negatif. Dari sisi positif, megacities menghasilkan proporsi yang lebih tinggi dari rata-rata dalam suatu barang dan jasa suatu bangsa, megacities juga menjadi pusat inovasi dalam bidang ilmu pengetahuan, seni, gaya hidup, memiliki banyak ase budaya serta memberi kesempatan yang lebih baik kepada masyarakat untuk menjalani kehidupan penuh dan memuaskan. Namun, dalam sisi negatif megacities dapa tmengakibatkan masyarakat mengalami penderitaan khususnya dari segi lingkungan seperti polusi, kekuarangan air, timbulnya daerah kumuh kemudian dapat memunculkan kemacetan serta kejahatan.
            Permasalahan megacities ini bisa diselesaikan dengan adanya peran penting dari pemerintah. Inisiatif yang dilakukan pertama dengan mengganti peran pemerintah dari penyedia jasa menjadi fasilitator jasa yang disediakan oleh orang lain. Kedua adalah dengan perubahan kedearah desentralisasi dan memperkuat pemerintah lokal. Ketiga dengan penyediaan layanan seperti penyediaan air dan transportasi umum melalui kemitraan publik-swasta .Keempa tadalah dengan meningkatkan pengelolaan keuangan dan terakhir dengan mencanangkan strategi pembangunan yang sudah matang dan dipikirkan secara strategis.
            Sejarah pembentukan megacities ini bisa dilihat dari dua faktor, yaitu faktor eksternal dan internal. Faktor internal terlihat dari bentuk masing-masing negara didunia. Misalnya saja republik dan federal. Kecenderungan republik hanya terpusat dengan satu wilayah saja, yaitu ibukota. Sedangkan federal memiliki negara-negara bagian sehingga wilayah megacities dapa tterbentuk tidak hanya di satu area saja. Misalnya saja Amerika Serikat yang memiliki Los Angeles dan New York City sebagai megacities. Faktor eksternal berasal dari masa kolonial ketika bangsa kolonial berusaha melakukan development bagi wilayah jajahannya dan kemudian melakukan perdagangan, bertransaksi, pembangunan infrastruktur dan aktivitaslainnya yang bersifat ekonomi sehingga area nya dapat tumbuh maju. Wilayah jajahan pun akhirnya lebih mirip Western cities. Selain itu kemunculan industrialisasi, inovasi teknologi dan komunikasi dengan ditandai adanya transfer teknologi serta globalisasi mendorong pembentukan megacities. 
Bahan Bacaan : Population and Development Review vol. 23 No.2 (Juni.1997) J.Stor

Globalisasi dan Implikasi Terhadap Pembentukan Megacities (2)

Kelompok 1

Miranti Deayu S. (0911240015), Ammamilha (0911243003,) Stefananda A.P. (0911240086),  Rafi Rizqi  (0911243067), Rachmadoni T.P. (0911243068), Cameilia Ratri K. (0911243049), Harry Dharma (0911243016), Deta Ayudhia

                Pembangunan ekonomi dengan pembangunan megacity sangat berkaitan erat, hal ini terbukti dengan GDP yang dihasilkan oleh megacity tersebut sangat mempengaruhi total GDP yang dihasilkan oleh negaranya. Megacity merupakan pusat dari teknologi, seni, lifestyle, ekonomi, inovasi dan budaya dari suatu negara, oleh karena itu keberadaan megacity ini mendorong tumbuh dan berkembangnya urbanisasi. Urbanisasi memberikan beberapa dampak positif dan negatif. Dampak positif dari urbanisasi adalah memperkuat sektor industri manufaktur dan meningkatkan industri jasa yang dapat memperbaiki dan meningkatkan pertumbuhan ekonomi suatu negara. Akan tetapi urbanisasi tersebut juga berdampak negatif terhadap lingkungan (keseimbangan ekosistem) yang pada akhirnya juga mempengearuhi kondisi perekonomian suatu negara.
              Latar belakang terbentuknya megacity salah satunya dalah faktor history, dimana pemerintah-pemerintah negara berkembang melnajutkan pembangunan di kota-kota yang sebelumnya telah dibangun oleh kolonial dimana hal ini juga disebabkan karena negara berkembang tidak memiliki banyak dana untuk melakukan pembangunan di daerah lain, sehingga hanya melanjutkan apa yang diwariskan oleh penjajah. Tujuan dibentuknya megacity adalah sebagai penggerak ekonomi dan pusat pemerintahan. Selain itu sistem politik dan pemerintahan juga ikut mempengaruhi terbntuknya megacity. Mayoritas sistem pemerintahan negara berembang dulunya adalah sentralisasi sehingga hanya melakukan pembangunan pada satu daerah saja dan belum mampu untuk membentuk atau membangun pusat-pusat kota di daerah lain.
Bahan Bacaan : Population and Development Review vol. 23 No.2 (Juni.1997) J.Stor

Globalisasi dan Implikasi Terhadap Pembentukan Megacities (1)

     Firda Indrayanti (0911240008), GenidaWahyu (0911240009), Irza Khurun’in (0911240012), Fany Triana (0911240054), Destia Alfiani (0911240056), Oucky Hertanto (0911241003), Afelino Dafflor (0911243001), Fredo Abram (0911240046), Onky Hendrawan (0911243065)

Megacities adalahkota metropolitan yang besar dengan kompleksita sekonomi, para pekerja yang memiliki skill tinggi, tersedianya sarana transportas idan komunikasi. Dengan jumlah populasi sekitar 10 juta jiwa. Sejarah pembentukan megacity yaitu sejak tahun 1965, meningkatnya populasi atau pertumbuhan penduduk di daerah urban/kota. Lalu pada era globalisasi ini, mendorong terjadinya pertumbuhuan bisnis dan industry di megacity.Hal tersebut berimplikasi untuk mendorong pertumbuhan dan peningkatan peran megacity dalam ekonomi production, organisasi social, knowledge generation, dan juga meningkatkan managemen perusahaan sebagai dampak dari kualitas hidup dan peningkatan produktifitas. Namun dalam perkembangannya, megacity menghadapi berbagai masalah seperti meningkagtnya urban population, minimnya persediaan air, polusi lingkungan, kriminalitas, berkembangnya daerah kumuh dan masalah social.Kondisi ini diperparah dengan permasalahan managemen megacity seperti: permasalahan pada good governance, tidak adanya kebijakan pengembangan yang jelas dan koordinasi, lemahnya managemen dari asset dan service, kurangnya kapasitas regulasi, dan kurangnya pengetahuan financia. Bahan Bacaan : Population and Development Review vol. 23 No.2 (Juni.1997) J.Stor